They say if you want to see the rainbow, you'll have to bear with the rain. But this particular rainbow just appeared in the sky, once upon an Idul Adha (if I remember correctly), along with no rain.







Life is like scrapbook making. Once we finish with one picture, we'll move to another. You jump into the moment, you screw things up. Like having a very bad picture of yourself-drooling-on-the-bus taken. But eventually, you'll pick up the mess you made and fix it. Days are gonna be bright again. Love's gonna find you again. And you just know, right in the moment, that no matter what, you're gonna be okay.
As we grow up, we learn that even the one person that wasn't supposed to ever let us down, probably will. You'll have your heart broken and you'll break others' hearts. You'll fight with your best friend or maybe even fall in love with them, and you'll cry because time is flying by.
Gue baru baca buku terakhirnya Raditya Dika, Marmut Merah Jambu. Gue masih nggak ngerti apa hubungannya marmut sama buku ini. Mungkin karena isi bukunya kali ini kebanyakan tentang cinta, jadi suasananya merah jambu. Nggak ngerti deh.
Eniwei, gue nggak pernah terlalu suka sama Raditya Dika ini. Awalnya gue baca 'Kambing Jantan' dan memang sukses membuat gue ketawa sendiri malam-malam. Tapi kemudian buku dengan konsep yang sama bermunculan dan si Raditya Dika ini kayaknya nggak maju-maju dengan novel-novelnya. Dan gue juga nggak suka dengan dia yang suka ngatain orang alay (masih nggak sih?).
Waktu gue ke toko buku terakhir kali, gue liat si Marmut Merah Jambu ini. Iseng, gue baca depannya. Niatnya to get a little laugh sambil nunggu adek gue beli cartridge buat printer. Tapi ternyata bukunya beda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya gue menilai tulisan dia bagus. Seperti, kali ini dia memang punya suatu ide untuk disampaikan.
Mungkin cinta memang bahasa yang paling universal, bahkan untuk orang yang terkenal dengan lifestory-nya yang aneh dan absurd. Di salah satu bagian buku ini dia cerita tentang pertemuan dengan soulmate. Bagaimana alam semesta bisa berkonspirasi supaya dua orang bisa ketemu.
Lucu. Nyokap gue juga pernah bilang begitu. She said: 'If one day you find somebody you love and loves you back, hold it dear. Because there are three billion people in this world and to find one that fits you like two pieces of puzzle... Isn't it miraculous?'
It is, indeed.
Ada dua hal yang paling nggak saya suka di dunia selain perang: konfrontasi dan perpisahan. Saya nggak suka harus menangis atau marah atau sedih. I have this strange idea of living a life like a sitcom. Maksudnya, hidup yang sederhana, penuh ketawa, ceria, kalau ada masalah pun bisa diselesaikan dalam setengah jam slot waktu tayangnya.
Bisa kan ya hidup begitu ya? *ngarep*





1 Comment