And if we should not achieve that final consummation, if things should become worse than before, if the whole truth should be more insupportable than the half-truth, if it should be proved that the silent are in the right as the guardians of existence, if the faint hope that we still possess should give way to complete hopelessness, the attempt is still worth the trial, since you do not desire to live as you are compelled to live. Well, then, why do you make it a reproach against the others that they are silent, and remain silent yourself?
The Samsas took ‘Gregor is now a beetle’ as a fact, not even had the slightest rumination like ‘there’s a monster inside Gregor’s room and it most probably has killed him’. Therefore instead of calling police or doctor or pest extinguisher, they kept beetle Gregor as a secret shame.
Gregor, despite tremendous unfortunate event that happened to him, could only think about how much he put his family in such inconvenient state. He wished, above anything else, to go back to work and provide his family a comfortable living and send his sister to a reputable music school.
A beautifully written bizarre story. As if mocking people who make a fuss over the superficials. The real tragedy is when your family member turns into insect over night. Anything else is solvable.

Ketika Charles Darwin mengunjungi Pulau Galapagos di tahun 1835, ia menyadari bahwa burung mockingbird di tiap-tiap pulau merupakan spesies yang berbeda. Hal ini semakin memperkuat keraguannya mengenai kemustahilan makhluk hidup untuk bermutasi. Setahun kemudian dia mencetuskannya dalam Darwin’s Finches, sebuah studi mengenai evolusi pada paruh burung.
Kisah ini mungkin menjadi inspirasi bagi Harper Lee, peraih penghargaan Pulitzer 1961, dalam menulis novel To Kill A Mockingbird. Namun Lee tidak bicara soal sains, melainkan sebuah realita hidup di mana seringkali citra dan praduga membuat orang buta akan kebenaran yang jelas-jelas digelar di depan mata.
To Kill A Mockingbird mengambil latar sebuah kota bernama Maycomb yang berada di negara bagian Alabama, Amerika Serikat. Saat itu, di tahun 1930-an, perlakuan berbeda terhadap orang kulit hitam masih sangat mencolok. Tanpa terkecuali, dalam masyarakat Maycomb yang sebagian besar merupakan golongan konservatif kulit putih.
Cerita ini dituturkan dari sudut pandang gadis berusia 6-8 tahun bernama Scout. Seperti anak seusianya, Scout suka menghabiskan harinya dengan bermain, berusaha mengikuti apa saja yang dilakukan kakak lak-lakinya. Termasuk mengintai rumah Boo Radley, seorang pria yang tidak pernah terlihat keluar rumah sejak bertahun-tahun. Namun hidup Scout berubah ketika ayahnya, Atticus Finch, pengacara terkenal di kota tersebut, secara mengejutkan maju menjadi pembela bagi Tom Robinson, seorang pekerja serabutan kulit hitam.
Robinson dituduh melakukan penyerangan seksual terhadap anak perempuan Bob Ewell. Walaupun mengalami tekanan dari komunitasnya, Finch bertahan membela Robinson. Ia mengumpulkan bukti-bukti yang secara mengejutkan mengarah pada kemungkinan Ewell-lah yang menyerang putrinya sendiri. Meskipun tahu kemungkinannya kecil, Finch berusaha membuat juri melihat kebenaran di balik warna kulit Robinson.
“Ada sebuah tempat di negara ini di mana semua manusia dilahirkan setara. Ada sebuah institusi buatan manusia di mana seorang paling miskin setara dengan Rockefeller, seorang idiot setara dengan Einstein, dan seorang apatis setara dengan semua rektor universitas. Tempat itu, Saudara sekalian, adalah pengadilan,” kata Finch pada pernyataan terakhirnya sebelum juri berunding untuk membuat keputusan. Namun demikian, cap buruk yang dialamatkan pada masyarakat kulit hitam sebegitukuatnya sehingga para juri akhirnya memberikan vonis bersalah pada Robinson.
Dengan pengamatan yang teliti dan gaya yang polos, Scout memperlihatkan paradoks dalam kehidupan masyarakat Amerika saat itu. Kaum kulit putih menganggap kaum minoritas sebagai ‘komunitas tidak berpendidikan dan berbahaya’ karena mereka tinggal di sudut kota yang kumuh, sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pembantu, dan tidak bisa baca-tulis. Di sisi lain, ada juga kaum kulit putih dengan ciri-ciri seperti itu, bahkan berkelakuan jauh lebih buruk dibandingkan orang kulit hitam, namun tetap mendapat perlakuan lebih baik. Maka alasan seperti tingkah laku dan kemampuan baca-tulis sebenarnya hanya pembelaan akan tumbuhnya prasangka yang disebabkan oleh perbedaan warna kulit. Prasangka itu seperti suatu keyakinan yang ditanamkan secara turun-temurun sehingga rasanya tidak ada alasan untuk menolak mempercayainya.
Dalam skala berbeda, prasangka juga yang menyebabkan Radley dilarang keluar rumah oleh ayahnya. Sejak bebas dari penjara remaja, Radley hidup dalam kurungan ayahnya yang khawatir Radley akan melakukan tindak kriminal lagi apabila dibiarkan bergaul dalam masyarakat. Pada akhirnya, Radley ternyata pria baik yang sering memberikan hadiah-hadiah kejutan bagi Scout saat gadis itu kebetulan lewat di depan rumahnya. Bahkan dia juga yang menyelamatkan Scout saat gadis itu dan kakaknya diserang oleh Bob Ewell, yang merasa dipermalukan di depan umum oleh Finch.
Para ‘korban’ dalam novel ini dianalogikan Lee sebagai mockingbird. Dalam masyarakat Maycomb, menembak burung penyanyi tersebut adalah kebiasaan dan hobi. Tidak ada seorang pun yang menentang hal itu, kecuali Finch, yang dengan jelas melarang anak-anaknya membunuh mockingbird.
“Mockingbirds tidak melakukan apapun kecuali menyanyikan musik untuk kita nikmati. Mereka tidak memakan tanaman orang, tidak bersarang pada tempat penyimpanan jagung, mereka tidak melakukan apapun kecuali menyanyikan lagu sepenuh hati untuk kita. Itulah sebabnya kita tidak boleh membunuh mockingbird,” begitu kata pengasuh Scout ketika gadis itu meminta penjelasan. Scout kemudian berjanji tidak akan membunuh mockingbird, seperti halnya dia menolak menjadi rasis.
To Kill A Mockingbird adalah novel Lee satu-satunya dan diterbitkan saat ia masih berusia 34 tahun. Melalui buku ini, Lee dianugrahi Presidential Medal of Freedom pada tahun 2007 silam. To Kill A Mockingbird merupakan salah satu karya paling berpengaruh di seluruh dunia dan kini menjadi salah satu bacaan wajib bagi sekolah menengah AS.
Lima puluh tahun setelah pertama kali buku ini diterbitkan, patut disyukuri masyarakat telah mengalami kemajuan besar dalam hal perbedaan rasial. Namun, seperti kata Darwin, mockingbird memiliki spesies berbeda di masing-masing pulau. Ada banyak Robinson dan Radley dengan permasalahan sendiri-sendiri. Untuk itu, kita harus melihat lebih jauh melewati prasangka, untuk bisa melihat lebih dekat orang di depan kita. Jangan sampai membunuh mockingbird, Finch bilang itu dosa.
Gue baru baca buku terakhirnya Raditya Dika, Marmut Merah Jambu. Gue masih nggak ngerti apa hubungannya marmut sama buku ini. Mungkin karena isi bukunya kali ini kebanyakan tentang cinta, jadi suasananya merah jambu. Nggak ngerti deh.
Eniwei, gue nggak pernah terlalu suka sama Raditya Dika ini. Awalnya gue baca 'Kambing Jantan' dan memang sukses membuat gue ketawa sendiri malam-malam. Tapi kemudian buku dengan konsep yang sama bermunculan dan si Raditya Dika ini kayaknya nggak maju-maju dengan novel-novelnya. Dan gue juga nggak suka dengan dia yang suka ngatain orang alay (masih nggak sih?).
Waktu gue ke toko buku terakhir kali, gue liat si Marmut Merah Jambu ini. Iseng, gue baca depannya. Niatnya to get a little laugh sambil nunggu adek gue beli cartridge buat printer. Tapi ternyata bukunya beda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya gue menilai tulisan dia bagus. Seperti, kali ini dia memang punya suatu ide untuk disampaikan.
Mungkin cinta memang bahasa yang paling universal, bahkan untuk orang yang terkenal dengan lifestory-nya yang aneh dan absurd. Di salah satu bagian buku ini dia cerita tentang pertemuan dengan soulmate. Bagaimana alam semesta bisa berkonspirasi supaya dua orang bisa ketemu.
Lucu. Nyokap gue juga pernah bilang begitu. She said: 'If one day you find somebody you love and loves you back, hold it dear. Because there are three billion people in this world and to find one that fits you like two pieces of puzzle... Isn't it miraculous?'
It is, indeed.

I've read couple books about wars. Mostly about World War II. Aside the fact that they're all fiction, those books show a glimpse of heartaches of the people involved. What was the purpose of war itself, I guess I could never understand. More like a sick game for terribily sick minds. I don't know how could men ever find this twisted idea of massacre as a way to gaining/maintaining world peace.
The Street of A Thosand Blossoms was a beautiful story about how Japanese cope during and after World War II. How was it like having your life turned upside down in one night? Having not the slightest to really understand the situation you're in.
The story is about Claire Paddleton, an English woman, who lived in HongKong because her husband was transferred there. Long story short, she soon began to develop an affair with a chauffeur of the rich family she's working on. This affair then led to the unrevealing of tragedies during the invation of Japan to HongKong.
I can see a little bit clearer of why HongKong loaths Japan. It's only friction of the whole war thing, and it's already unforgivably cruel. And to think that HongKong was invaded only because it was a British colony... I wonder if the Queen could sleep soundly at night during this period. So many people had to suffer and struggle, all because of one man say: "Let's bring this on!"
Who is the moron who said 'don't ask your country what it can do for you, but ask yourself what you can do for your country' anyway? Geez, some of us just want to live in peace and enjoy life as it is.
Anyway, back to the book. The writing style is too much American-like, in my opinion. A tiny-weeny intriguing as it's supposed to be a story about the affair of England and China. I don't do well with movies. My definition of good movie goes around 'The Devil Wears Prada' and 'Sex and The City'. But I'm really into books. And this one is a highly recommended.




Leave a Comment